Rabu, 22 April 2015

yeah


"Kalau ada yang menawar di bawah Rp200 juta, tidak akan saya lepas," kata dia kepada Okezone, Semarang, Jawa Tengah, Senin (20/4/2015).
Junet mengaku mendapat kecubung merah tersebut dari seorang kolektor batu akik tiga tahun lalu. Kala itu, sebuah komunitas pecinta barang-barang antik di Semarang menggelar semacam adu koleksi paling unik di Tinjomoyo, Semarang
Dalam pertandingan tersebut, Junet mengeluarkan koleksinya, sebuah batu fosil mirip kepala manusia.
"Kita tarung, adu siapa yang paling unik. Nah, dari situ kolektor itu tertarik dengan koleksi saya," ungkap Junet.
Kepada kolektor tersebut, Junet menyatakan siap melepas batu fosil miliknya asal ditukar dengan kecubung merah yang dia koleksi. Padahal, kolektor tersebut sudah memiliki kecubung merah itu selama 20 tahun.
"Mungkin karena dia sudah bosan, kecubung ini dilepas," kata pria yang mengaku sudah gila akik sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar ini.
Junet mafhum dengan keputusan kolektor tersebut. Pasalnya, para kolektor barang antik biasanya pemain lama yang bergelimang harta.
"Jadi urusan uang para kolektor ini gampang keluar. Sekarang kolektor itu sudah almarhum," terang Junet.
Kecubung merah milik Junet memiliki serat unik. Warna kecubung didominasi merah, namun di beberapa titik terdapat serat putih dan hitam. Serat-serat kecubung tersebut terbungkus dalam kristal kecubung air yang mirip kaca.
Junet mengaku tidak mengeluarkan uang sepeser pun demi menguasai kecubung merah yang memiliki bobot sekira delapan kilogram itu.
"Tarung itu bukan menang atau kalah tapi kepuasan. Kita posisinya menang, disukai dulu," ungkap Junet.
(Ari)
ga Rp 1 miliar oleh pemiliknya. Batu akik bernama Klawing Pancawarna Telur Kodok ini dipamerkan di Rest Area Tamanagung, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, 18-19 April 2015.
Pemilik batu akik tersebut, Lilik Sulistyono, memasang harga tinggi untuk batu akiknya karena batu ini memiliki keistimewaan, antara lain tembus cahaya, memiliki tujuh warna, dan diambil langsung dari Sungai Klawing, Purbolinggo, Jawa Tengah.
"Batu ini tergolong langka, diambil dari Sungai Klawing. Batu dari sungai memiliki kadar kapur yang lebih rendah daripada batu dari pegunungan sehingga batu akik ini memiliki kualitas yang bagus," ujar Lilik di sela-sela pameran, Sabtu (18/4/2015).
Lilik yang juga Ketua Panitia Pameran Batu Akik Tamanagung ini mengaku, hingga saat ini sudah ada yang menawar Rp 425 juta untuk batu akik tersebut. Namun, ia belum bersedia melepaskannya. Ia masih bersikukuh dengan harga Rp 1 miliar.
"Kalau ada yang mau segitu, baru saya lepas. Soalnya, saya juga suka dengan batu ini. Kalaupun enggak laku, (batu ini) ke depan buat investasi anak-anak saya. Batu tidak bisa bertambah, tidak seperti tanaman anturium yang bisa dibudidayakan. Semakin lama justru batu ini akan semakin langka dan memiliki nilai jual tinggi," kata Lilik.
Pemilik sanggar seni Linang Sayang Muntilan itu mengaku sudah menggemari batu mulia sejak sembilan tahun lalu. Tidak hanya batu akik sebagai perhiasan, tetapi juga batu-batu Gunung Merapi yang dijadikan beragam kerajinan batu.
"Saya mencintai batu sudah lama karena saya hidup (berpenghasilan) dari batu," ucap Lilik.(Kontributor Magelang, Ika Fitriana)
Akik-akik di foto ini telah beredar di pasaran. Harganya tentu bervariasi. Tergantung kualitas akiknya. Yang standar hanya ikat sulurnya. Jasa mengikat akik dibanderol Rp 20 ribu - Rp 50 ribu.

Permintaan akik iket sulur ini kian hari kian meningkat. Bahkan saat ini barang-barang tersebut sudah masuk mal. Apa yang mendasari tren itu?

"Buat pecinta seni, kesan natural dari batu yang dibalut akar sulur lebih kelihatan," ungkap pedagang di salah satu mal di Sukabumi, Dede (35), kepada detikcom, Senin (20/4/2015).

Di lapak Dede, terlihat berbagai jenis dan ukuran akik berikat sulur. Ada yang berbentuk cincin, gelang, dan kalung. Semuanya diikat dengan akar sulur. Menurut Dede, tidak ada taksiran harga. Hanya saja, harganya harus wajar.

"Harga lebih murah akik berbahan titanium atau platina dibandingkan akar sulur. Banyak yang tertarik iket sulur. Katanya lebih gaul," lanjutnya.

Kekuatan iket sulur, kata Dede, tak perlu diragukan. "Justru tambah kuat jika terkena hujan atau ditenggelamkan air," imbuh pria yang mengaku pernah menjual akik berlafaz Allah seharga Rp 15 juta itu.Next
Batu Akik Lim Saputra, 28 tahun, warga Kelurahan Pandean, Kecamatan Taman, Kota Madiun, membanderol batu mulia berjenis serendibite dengan kadar karat 4,85 miliknya dengan harga Rp 20 miliar. Batu itu telah dipoles dan siap diletakkan pada tempatnya alias emban cincin. "Harga tersebut per karat secara internasional Rp 24 miliar," kata Lim, ketika ditemui saat pameran dan kontes batu mulia Jawa Timur di halaman Kantor Badan Koordinasi Wilayah Madiun, baru-baru ini.

Tingginya harga yang dipatok itu, menurut dia, karena serendibite termasuk batu mulia langka di dunia. Bahkan, hanya bisa ditemukan di Sri Lanka dan Myanmar Utara. Adapun keunikannya memiliki penyerapan cahaya yang sangat tinggi. Saat disenteri, serendibite mampu mengeluarkan warna hijau kekuningan hingga hijau kebiruan dan violet pada permukaannya.

, Lim khawatir ada pihak yang berniat jahat saat serendibite dibawa dari rumahnya menuju lokasi pameran batu mulia. Ia sengaja meminta pengawalan aparat Satuan Brigade Mobil Detasemen C Pelopor Madiun.

Selain mengawal, dua petugas dengan dilengkapi senjata api juga menjaga batu mulia yang telah mengantongi sertifikat dari Asian Institute of Gemological Science (AIGS) di lokasi pameran. "Batu ini sangat bernilai dan langka, maka saya meminta pengawalan dari Brimob untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," kata Lim yang juga pemilik usaha penjualan aksesoris mobil.

Dalam pameran dan kontes batu mulia itu, Lim berencana melelang batu serendibite miliknya. Apabila ada yang berminat dan membeli sesuai harga yang dipatok, batu langka itu akan dilepas. "Kalau tidak ada enggak masalah karena niat utama saya memberikan edukasi kepada warga tentang adanya batu langka di dunia," ujar dia.

Hubungan masyarakat pameran dan kontes batu mulia Jawa Timur Indra Budi mengatakan bahwa batu serendibite sengaja diikutkan dalam acara tersebut untuk menarik perhatian pengunjung, sehingga tingkat penjualan dari beragam batu mulia yang ikut pameran tinggi. "Kalau batu serendibite sifatnya hanya untuk eksibisi," kata dia.

Menurut Indra, pameran dan kontes batu mulia itu berlangsung selama empat hari, mulai Kamis, 16 - 19 April lalu. Dalam kegiatan tersebut disediakan 106 stan yang diisi oleh perajin dan penjual batu mulia dari beberapa daerah seperti Jakarta, Bali, dan kabupaten/kota se-eks Karesidenan Madiun.

Tak hanya di Madiun, acara serupa pun di gelar Hotel Grand Clarion, Makassar. Pameran berskala nasional yang digelar Komunitas Gemstone Makassar itu dimeriahkan oleh 60 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, dengan memamerkan beragam jenis batu akik.

Jenis sisik naga asal Enrekang, Sulawesi Selatan, salah satu andalan di pameran ini. Selain itu, jenis bacan doko juga menjadi favorit. Adapun yang termahal adalah blue sapphire, yang harganya mencapai ratusan juta rupiah. Bahkan disebut-sebut oleh Ketua Panitia Pelaksana Pameran, Fahri, sebuah batu akik blue sapphire dibanderol Rp 1 miliar.

Sementara itu, seorang penggemar batu akik asal Makassar, Muhtar Tahir, mengaku memiliki sekitar 60 batu akik sejak demam batu akik merebak. Akik termahal

Jumat, 17 April 2015

kkkkkkkkkkkkkk

, Kabupaten Jayapura, Papua menyebabkan harga batu akik meroket mencapai Rp3.000.000 per buah.
"Batu akik yang ukuran besar dan memancarkan beberapa warna saya patok harga Rp3.000.000 per buah,"kata Yeto Aplinus di Sentani, Rabu (15/4) kemarin.
Yeto mengatakan, batu akik yang ia dagangkan diperoleh dari beberapa wilayah di Kabupaten Jayapura seperti dari kawasan pegunungan Cyclop, Genyem, Kuwai, dan Yoka.
"Batu akik yang paling banyak saya dapat dari pegunungan Cyclop karena dekat dengan tempat tinggal saya,"tuturnya.
Selain batu akik yang diperoleh dari beberapa wilayah di Kabupaten Jayapura, Aplinus mengaku, Ia juga peroleh dari negara tetangga Papua New Guinea (PNG).
"Kalau batu akik dari PNG saya jual Rp100.000 sampai Rp300.000 per buah, tergantung ukuran masing-masing dan warnanya, kalau satu batu ada beberapa warna itu lebih mahal, walaupun berukuran kecil," katanya.
Harga yang dipatok pedagang batu akik di pinggiran jalan bandara Sentani bervariasi mulai dari harga Rp5.000 sampai jutaan rupiah.
Halaman selanjutnya »
Keysar, Kolektor Ribuan Batu Akik yang Bernilai Ratusan Juta
untuk pengembangan usaha dan bisnis. Warna dan kilau batu akik yang memesona membuat banyak kalangan yang terpikat. Masing-masing daerah di Indonesia, memiliki potensi batu alam ini, tetapi belum digarap secara serius oleh badan terkait pemerintah.

Salah seorang yang sangat memahami potensi batu akik lokal itu adalah Keysar. Berangkat dari hobi, kini batu akik dijadikan sebagai koleksi yang memiliki nilai sangat besar. Saking hobinya dia bahkan mengoleksi ribuan batu akik di rumahnya.

“Saya kolektor batu akik, bukan pedagang, tapi tak menutup kemungkinan, saya berinvestasi,” katanya.

Seperti diketahui, batu akik merupakan salah satu potensi alam. Bahkan, sejumlah negara memiliki jenis-jenis batu tertentu yang menjadi unggulannya. Tak terkecuali di Indonesia. Bagi para kolektor, dapat menyimpan dan memiliki beragam batu mulia ini tentunya menjadi kebanggaan tersendiri.

Berburu hingga merogoh kocek yang cukup menjadi konsekuensi untuk dapat mengoleksi batu-batu berkilau ini. Itu pula yang dilakukan Keysar. Bahkan, pria berkulit putih ini telah memiliki ribuan batu akik dengan beragam jenis dan ukuran. Baik dari dalam negeri ataupun luar negeri. Bahkan, ketertarikan Keysar dengan batu-batu alam telah di mulai sejak ia duduk di bangku sekolah dasar (SD).

“Dulu waktu di kampung, Desa Pandan Agung, Komering, saya sering mandi di sungai. Kadang-kadang, setiap kali ke sungai saya menemukan batu-batu alam yang cantik. Akhirnya, saya bawa pulang dan saya simpan,” ujar Keysar saat dibincangi di kediamannya di Jalan Demang Lebar Daun Gang Kelinci No. I Palembang, kemarin seperti dilansir sindo.com.

Seiring dengan waktu, kata Keysar, kecintaannya terhadap batu terus berlanjut. Saat duduk di bangku kuliah, Keysar sudah mulai bekerja dan berdagang.
penyerahaan pemenang kontes batu akik 21 dese 2014 (3)
PADANG, METRO –Kemilau Minangkabau 2014, kontes batu akik terbesar di Sumbar, sukses menghadirkan dua ratus pencinta batu dari seluruh kabupaten/kota di Sumbar serta provinsi tetanggap. Padang hari terakhir, Minggu (21/12), belasan batu bernilai tinggi berhasil dikumpulkan untuk disumbangkan.
Ketua pelaksana Kemilau Minangkabau 2014, Guspen Khairul menjelaskan, para pecinta batu akik terpuaskan dengan Kemilau Minangkabau. Masyarakat pun antusias untuk datang, baik untuk membeli atau sekadar bertanya tentang batu-batu akik terbaik dengan nilai jual tinggi.
.
Untuk Sumbar, menurut Guspen, banyak batu-batu terbaik yang tersembunyi di berbagai daerah. Dengan kekayaan alam yang dimiliki Sumbar, maka batu akik bisa menjadi bisnis menjanjikan.
”Lewat tangan-tangan terampil masyarakat kita di Sumbar, batu itu disulap menjadi indah berjual nilai tinggi. Melalui Kemilau Minangkabau 2014, maka pencinta atau hobi batu bisa lebih terakses dan juga kedua untuk bisa membantu kaum miskin dan anak yatim melalui dompet duafa,” jelasnya.
Selain dari Sumbar, antusias acara ini terlihat dari kehadiran pengrajin serta masyarakat dari Riau dan Jambi. Rata-rata pengunjung memburu batu-batu mulia. ”Dengan ini gairah pecinta batu akik atau batu mulia asli Sumbar bisa bangkit. Targetnya, acara ini akan diadakan sekali setahun. Potensi batu mulia memang tidak dipungkiri lagi indahnya. Contohnya batu asli dari Dharmasraya yaitu lumuik Sungai Dareh.
”Saat ini potensi besar ada di Dharmasraya, karena di sana terdapat aliran sungai Batanghari dan tersimpan batu-batu bernilai jual tinggi,” jelasnya. (cr4)
)
TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR – Iseng mengisi waktu kosong, Bambang Hermanto (33), sebulan lalu mendatangi sebuah daerah Handal Telor Pecah untuk mencari bongkahan batu.
Lokasinya tidak jauh dari tempat tinggalnya, sebab Handar Telor Pecah berada di Kecamatan Tanjung Selor Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara.
“Saya temukan batu fosil. Saya ambil, lalu diasah,” ungkapnya kepada TRIBUNKALTIM.CO, di lapangan Agatis Tanjung Selor, Sabtu (11/4/2015) malam.
pun tidak sengaja menemukan pola batu yang hampir menyerupai kepala tokoh pahlawan dongeng asal Tingkok, Kera Sakti. (Baca: Akik Motif Naga-Ratu Pantai Selatan Ditemukan Seorang Habib, Harganya?)
“Batunya saya senter. Kok, saya lihat ada pola yang mirip-mirip kera sakti. Saya asah terus supaya membentuk pola Kera Sakti,” tutur pria kelahiran Tanjung Selor ini.
Untuk mengasah batu tersebut, tambahnya, hanya membutuhkan waktu sekitar seminggu. Mengingat, batu fosil temuannya bersifat sangat keras, membutuhkan waktu dan tenaga banyak.
uaraBanyuurip.com - Totok Martono
sebuah panggilan jiwa. Butuh ritual khusus untuk melakukanya.

Seperti hobi yang ditekuni Nastain (34), warga Jalan Jombang, Gang Roworejo RT. 2, RW. 4 Kelurahan Banaran, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Selama belasan tahun Nastain berburu batu akik hingga mampu mengoleksi ratusan jenis batu akik.

Ratusan batu akik dengan berbagai warna dan ukuran yang dikoleksi Nastain disimpan diwadah kotak khusus tempat menyimpan perhiasan. Untuk setiap jenis batu akik yang dikoleksi pegawai negeri sipil (PNS) yang bertugas di Kelurahan Babat itu memiliki nama dan yoni masing-masing.

“Ada sejarah perburuan sendiri untuk memperoleh setiap batu akik yang saya koleksi,” kata Nastain membuka perbincangan dengan suarabanyuurip.com, Selasa (28/5/2013).

Sekarang ini, setidaknya ada sekira 500 batu akik yang dikoleksi. Dari ratusan batu akik itu ada sekira 150 batu akik yang diperolehnya dengan cara berburu khusus. Sedangkan sisanya merupakan batu akik hasil buatan sendiri, hasil barter atau dikasih orang karena mengetahui dirinya seorang kolektor batu akik.

Nastain mengaku, suka berburu batu akik yang kasat mata dengan petunjuk mata batin. Dia mendatangi. Untuk kemudian malakukan ritual khusus agar dapat mengambil batu akik dari alam gaib.

“Niatan saya murni karena suka mengoleksi. Bukan karena khodam batu akik tersebut. Walaupun harus diakui setiap batu akik memiliki yoni sendiri-sendiri,” ungkap bapak dua anak ini.

Kemudian Nastain menjelaskan beberapa jenis akik dan yoni yang menyelimuti batu akik yang dikoleksinya. Menurut dia, kelas batu akik tertinggi yaitu zamrud. Batu akik jenis ini untuk yang meyakininya akan membawa kewibawaan bagi yang memakainya.

Sedangkan batu akik kecubung, lanjut Nastain, untuk pengasihan (akan mudah disukai semua orang), batu akik Sulaiman untuk kedikjayaan (terhindar dari ancaman bahaya), batu akik virus untuk bisnis (memperlancar usaha), batu akik kul buntek laut untuk membingungkan orang, dan batu akik pancawarna untuk karier.

Dari ratusan koleksinya, Nastain mengaku, hanya beberapa batu akik yang sangat berkesan baginya, yaitu batu akik siwalan yang ddapatnya di Desa Gajah, Kecamatan Boureno, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tahun 1994 silam.

“ Batu akik siwalan ini koleksi pertama saya. Dapatnya dari petunjuk gaib lewat mimpi,” tutur Nastain.

Pondok Pesantren Langitan ini juga terkesan dengan dua batu akik lain miliknya. Yaitu batu akik 4 mustika naga putih dan dua batu akik berlafal Allah. Di batu akik lafal Allah yang berwarna putih kekuningan cerah tersebut tampak jelas tulisan berbentuk lafal Allah.

“Saya mendapatkannya sudah seperti ini,” tegas Nastain. Dia mengaku, batu akik berlafal Allah tersebut pernah ditawar Rp 30 juta, namun tidak dia jual.

Sebagai kolektor batu akik, Nastain yang juga bergabung di kelompok Pecinta Batu Permata se Karisidenan Bojonegoro ini, tidak pernah mengkomersilkan koleksinya. Jika ada yang tertarik dengan salah satu batu akik koleksinya, dia sering memberikan dengan cuma-cuma asalkan batuk akik yang diminta itu lebih dari satu. Selain itu Nastain juga lebih suka barter dengan sesama kolektor batu akik.

Namun untuk jenis-jenis batu akik istimewa seperti jenis Zamrud dan Kecubung yang banyak diburu kolektor, Nastain tidak keberatan menjualnya dengan harga jutaan rupiah.

“Yang jelas untuk siapa saja pemakai akik, jangan sampai yakin atau percaya dengan segala kasiat yang ada didalamnya. Itu akan menjadikan musrik. Semua kekuatan hanya milik Allah,” pesan Ustad muda yang juga hobi membuat batu akik tersebut. (tok)
RIBUNPONTIANAK.CO.ID - Lusiana (38), wanita asal Anjungan ternyata memiliki hobi unik yakni mengoleksi ratusan batu baik batu mulia atau permata, batu akik maupun fosil. Hobi ini ia lakoni sambil mengurus usaha rumah makan miliknya di Jl Pak Kasih Nomor 46 Pontianak.
. Sejak 1960, Lusi sapaan akrabnya terbiasa melihat sang ayah membeli batu-batu mulia dari para penjual yang datang dari berbagai daerah. 
"Waktu kecil saya sempat bingung, dari mana-mana saja orang datang ke rumah untuk menjual batu-batu ke Bapak. Sekarang saya pun bisa mendapatkan koleksi batu-batu sendiri, bahkan ada juga dari India," ujar Lusi ditemui Tribun di tempat usahanya, Senin (2/4/2012).
Seiring berjalannya waktu, Lusi ikut terpana pada pesona akan nilai, warna dan eksotisme batu mulia dari alam ini. Sekitar tahun 2000 ia mulai mengumpulkan satu demi satu batu berharga ini. Tak terasa, koleksinya kini mencapai 700 jenis batu mulia. Batu-batu ini ia dapatkan dari berbagai daerah seperti Kapuas Hulu, Ketapang dan Banten.
"Dari ratusan batu, zambrud merupakan koleksi yang paling mahal. Saya beli sekitar Rp 5 juta. Ada lagi batu yang dijadikan liontin berbentuk burung cendrawasih. Di tangan saya saja sudah berkisar 40 tahun. Belum di tangan orang pertamannya. Mungkin sudah puluhan tahun umurnya," jelas Lusi.
Batu berharga lainnya yang dimiliki Lusi yakni rubi, zamrud, blue safir, kecubung, padar besi, topas, yakut, baiduri bulan, king safir, cake ai, badar lumut, zabar jat, mata kucing, pos pon yang harganya berkisar antara Rp 1 juta hingga Rp 5 juta.
"Untuk keseluruhan, duit yang telah keluar sekitar Rp 500 juta ke atas. Bukan masalah harga sekarang yang di lihat, tetapi makna, keindahan dan nilai seninya. Bahkan kalaupun ada yang faham dan mengerti batu, ratusan juta pun pasti akan dikeluarhakan," katanya.
Menurutnya, ada nilai tersendiri dari batu yang dimiliki. Dikarakannya, sebagian orang percaya batu jenis rubi atau merah delima membuat orang yang memakainya lebih berwibawa. Orang itu di baluti.
"Semua batu yang dari alam ini hidup dan mempunyai nyawa. Mengenai nilai mistik, tergan
Priyo Budi Santoso, Kolektor Batu Akik
    yang pernah bertemu atau melihat Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso, perhatikan di jarinya terlihat batu akik yang selalu ia kenakan. Batu akik bertuah atau hanya sekadar aksesori? Priyo Budi Santoso tergolong politikus DPR yang piawai. Hal itu cukup menonjol saat dirinya memimpin persidangan di DPR. Persidangan DPR yang kerap berujung adu urat syaraf serta menemui jalan buntu, nyaris tak ditemui jika Priyo yang memimpin persidangan. Joke segar dari Priyo, mampu mendinginkan suasana. Adakah hubungan antara batu akik dan kepiawaiannya dalam memimpin sidang? Tentu saja tidak. Karena batu akik yang ia miliki hanya untuk koleksi, bukan untuk pegangan apalagi sebagai jimat. "Dulu saya punya belasan, hanya untuk koleksi," ujarnya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (29/10).Koleksi Priyo tergolong variatif. Mulai model cat eye (mata kucing), blue safir, pirus, mirah delima, tentunya juga akik. Dari mana batu akik yang ia miliki itu? "Sebagian saya beli dan harganya tidak mahal," timpalnya.Sebagian lainnya, sambung Priyo, ia dapatkan dari pemberian teman. "Termasuk kasepuhan (orang yang dituakan)," tambahnya.Namun saat ini, koleksi batu akik yang dimiliki Priyo tidak sebanyak sebelumnya. "Sekarang tinggal blue safir dan merah delima," ungkapnya tanpa merinci kemana koleksi batu akiknya.Kebiasaan Priyo yang kerap memegang dagu dengan jarinya, memudahkan lawan bicaranya mengetahui koleksi batu akiknya. Kebiasaan ini tentu tanpa ia sadari, secara tak sengaja juga memamerkan koleksi batu akiknya. [mdr]
- See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/932222/priyo-budi-santoso-kolektor-batu-akik#sthash.okMPgN0H.dpuf
membuat Ko Hindra, pengusaha terkenal, di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan memajang seluruh koleksi batu akik miliknya di lobi Smart Hotel, miliknya.

Koleksinya mencapai ribuan, mulai dari koleksi batu cincin yang berjumlah 1.000 buah, liontin 3.000 buah, bahkan batu yang masih berbentuk bongkahan atau disebut sosety sebanyak 300 buah.

Koleksi batu akik yang dimilikinya mulai dari batu Aceh, Padang, Bengkulu, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Semua dikumpulkan oleh Ko Hindra sejak ia duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), yang kala itu belum banyak orang mengenal batu akik seperti sekarang ini.

Ko Hindra menceritakan, awal kecintaanya pada batu akik, saat dirinya mendapat banyak oleh-oleh batu akik dari sanak keluarga usai perjalanan dari luar kota maupun luar negeri

Koleksinya tertata rapi dalam empat buah etalase yang memiliki tinggi dua meter serta dilengkapi pencahayaan yang cantik.

Setiap pengunjung yang datang ke hotelnya, hal pertama yang dilakukan adalah melihat koleksi batu akiknya. Banyak dari mereka yang berminat untuk membeli koleksi batu akik tersebut. Namun Ko Hindra tidak menjual koleksi batu akiknya, karena setiap batu memiliki nilai cerita tersendiri.

Ditemui disela-sela kesibukanannya, Ko Hindra menceritakan kini sedang mengumpulkan jenis batu akik asal Muratara karena mulai membooming karena memiliki beragam corak dengan nama teratai. Mulai dari terati merah, biru, hijau, hitam dan pancawarna, red muratara, serat kelabang, lavender muratara dan masih banyak lagi.

Untuk itu Ko Hindra sengaja membuat galeri khusus batu akik miliknya di lobi Smart Hotel, agar setiap tamu dapat menikmati keindahan beraneka ragam batu akik yang ada.

Selain itu, ia juga membuka stand batu akik bagi para pencinta batu akik untuk menjual berbagai batu akik jenis teratai dan batu akik lainnya, seperti spritus, biru langit, lavender dari baturaja, red, yelow, orange, white raflesia Bengkulu, borneo kalimantan, pancawarna klawing, giok aceh, serta tidak ketinggalan batu akik teratai.

Kecintaan terhadap batu akik inilah yang mendorong Ko Hindra untuk memperkenalkan jenis batu yang berasal dari Kota Lubuklinggau kepada para tamu hotelnya. Diharapkan jenis batu teratai ini mampu bersaing dengan batu dari daerah lainnya di Indonesia.

"Saya sengaja membuka galeri batu akik di lobi Smart hotel, biar para pengunjung atau tamu hotel dari luar daerah tahu akan adanya batu teratai. Hal ini dilakukan untuk memperkenalkan lebih jauh akan adanya batu akik jenis teratai. Dan yang dipajang baru sebagian dari koleksi batu akik yang ada. Karena kalau seluruh koleksinya keluar tidak akan cukup diletakkan di lemari etalase yang sekarang ia punya" ungkap Ko Hindra.


(sus)